Yang pernah saya baca--tapi lupa referensinya-- penggunaan nama-nama
yang berakhiran ad-din (agama) marak semenjak Perang Salib berkecamuk
dan masih tertinggal residunya sekitar 15 tahun silam. Setelah itu
generasi milenium baru lahir, tapi jarang yang menggunakan nama-nama
berakhiran ad-din seperti Nuruddin, Shalahuddin, Taqiyuddin, Najmuddin,
Burhanuddin, Saifudin, Badruddin dlsb (ingat lagu "Udin Sedunia").
Lebih jauh, nama-nama khas Jawa yang ditandai dg hari pasaran/bulan
Jawa: Legimin (Legi), Poniman (Pon), Paiman (Pahing), Wagino (Wage),
Klimin (Kliwon), Sapari (Sapar), Suratmi (Suro), Juminem (Jumadil
Awal/Akhir), Waljinah (Syawal), Saryanto (Besar) telah menjadi artefak
sejarah sejak era kelahiran 1990-an.
Jika nama di atas
biasanya bagi kalangan "biasa", nama-nama bangsawan, yang lazimnya
ditambahkan Raden atau Raden Ajeng, juga mulai pudar dan jarang
digunakan kecuali sebatas gelar-gelar keraton, misalnya yang berakhiran
Nagoro, Alam, Bawana/Buwana, Kusumo.
Dinamika zaman memang
bisa ditandai dengan tatanama (nomenklatur). Karena nama adalah doa,
maka Walisongo melakukan Islamisasi melalui budaya, termasuk
nomenklatur. Pasca Walisongo, nama-nama manusia berdasarkan binatang
yang di"sakral"kan seperti Gajah(mada), (h)Ayam Wuruk, Lembu Sora, Kebo
Anabrang, Banyak Wide, dlsb tergeser nama-nama harapan: Slamet, Prakoso,
Widodo, dlsb, maupun nama Arab yang dilafalkan lidah Jawa: Ngabdullah,
Soleman, Brahim, Ngali, Ngaisah, Kotijah, dlsb.
Kemudian, era
berganti saat orangtua zaman dulu memberi nama anaknya (tasmiyah) dengan
tafaul-an berdasarkan nama orang sholeh, biasanya nama ulama mushonnif
kitab.
Hanya saja dalam pelafalan maupun penulisan seringkali membuat nama orang sholeh "tereduksi", lebih nJawa-ni, misalnya:
Assyarqowi: Sarkowi
Assuyuthi: Sayuti
Assyaibani: Sebani
Al-Qushtalani: Kastalani
Assubki: Subeki
Al-Kamtsari: Kamsari
Al-Syirazi: Saeroji
Addasuqi: Dasuki
Assyirbini: Sarbani
Attahawy: Tohawi
Attaftazani: Taptojani
............
(silahkan ditambah sendiri)
Ada pula nama seseorang yang berdasarkan nama kitab. Di antara
tujuannya adalah si anak bisa menjadi seperti penulis kitab tersebut,
atau berharap akhlak dan karakternya terjiwai dari isi kitab yang
disematkan pada namanya:
Ihya' Ulumiddin
Fathul Bari
Fathul Qodir
Fathul Mu'in
Fathul Wahhab
Fathul Majid
Fathurrobbani
Fathurrohman
Nailul Author
Nurul Burhan
Nurul Yaqin
Syifa-ul Qulub
Syamsul Ma'arif
Khusnul Hamidiyyah
Hilyatul Awliya'
Qatrun Nada
Lathoiful Ma'arif
Aunul Ma'bud
Busyro al-Karim
Khozinatul Asror
Minhajul Qowim
Minhajul Abidin
Riyadlul Badi'ah
...............(silahkan ditambahi sendiri)
-----
Nama, telah menjadi doa, labelling, kasta, bahkan tinanda zaman...